Samarinda – Senior Advisor GIZ, Iwied Wahyulianto, menilai penguatan indikator industri berkelanjutan menjadi langkah penting bagi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mendorong transformasi ekonomi menuju sektor yang lebih berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikannya saat ditemui dalam kegiatan Diseminasi Laporan Indeks yang Berkelanjutan (IYB) serta Evaluasi dan Diseminasi Aplikasi CMS Kutai Timur, Senin (14/9/2026), di Hotel Aston Samarinda.

Iwied mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut arahan untuk mengembangkan indikator industri berkelanjutan bagi kabupaten yang secara ekonomi berkembang dengan sektor perkebunan.

Menurutnya, sektor perkebunan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas produksi, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lanskap di sekitarnya. Karena itu, keberlanjutan sektor tersebut perlu diukur melalui sejumlah indikator yang mencakup aspek lingkungan, sosial ekonomi, dan tata kelola.

“Indikator industri berkelanjutan ini sekarang ada di panduan versi 5. Ada 17 indikator utama dan 10 indikator pendukung. Ada tiga dimensi, yaitu lingkungan, sosial ekonomi, dan tata kelola,” ujar Iwied.

Ia menjelaskan, indikator tersebut nantinya menjadi tolok ukur yang dapat dipantau pemerintah daerah untuk mengetahui sejauh mana pembangunan ekonomi daerah telah berjalan secara berkelanjutan.

Pada aspek lingkungan, indikator antara lain melihat keberadaan area bernilai konservasi tinggi, kawasan berhutan yang tetap dilindungi dan dipertahankan, serta berbagai upaya konservasi lainnya.

Sementara dari sisi sosial ekonomi, indikator mencakup penguasaan dan pengelolaan lahan oleh petani mandiri, termasuk aspek kelembagaan, kepemilikan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), hingga dampak ekonomi yang dihasilkan.

Iwied menilai indikator tersebut relevan bagi Kutim yang tengah diarahkan untuk melakukan transformasi ekonomi, dari sektor tidak terbarukan menuju sektor terbarukan.

Menurut dia, salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk mendukung transformasi tersebut adalah perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit yang menjadi salah satu komoditas penting di Kutim.

Meski demikian, Iwied menegaskan bahwa indikator industri berkelanjutan tidak hanya ditujukan untuk komoditas sawit. Sejumlah komoditas perkebunan lainnya juga menjadi bagian dari pengukuran.

“IYB ini tidak hanya untuk komoditas sawit, tapi juga komoditas yang lain. Ada kakao, ada karet, ada lada yang juga menjadi bagian penting dari sektor yang dilaporkan dalam IYB,” pungkasnya. (ds)

Loading