Oleh : Adinda Nurul M.

Stress adalah respon yang diberikan oleh tubuh dan bersifat nonspesifik terhadap beban atau tuntutan yang dihadapi. Orang yang mengalami stress  bisa mengalami distress, yaitu stress yang berdampak pada satu atau lebih organ tubuh sehingga kemudian yang bersangkutan akan mengalami kesulitan dalam menjalani pekerjaannya dengan baik. Gejala stress yang dikeluhkan penderitanya didominasi oleh keluhan fisik atau sematik, dan juga keluhan psikis (Apsari, 2019). Menurut Kendall dan Hammen (dalam Safaria dan Putra, 2009), stress terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara situasi yang menuntut dengan keadaan psikis individu atau ketidaksiapan individu dalam menghadapi tuntutan tersebut. Saat individu tidak mampu mengatasi stress yang dimiliki, maka stress itu berpotensi menyebabkan gangguan psikologis.

Untuk melepaskan diri dari stress ini, meditasi diyakini sebagai salah satu solusinya. Dengan meditasi, dipercaya kita akan mendapat ketenangan batin yang membawa pada pikiran murni. Melepaskan pikiran dari dunia luar tentu akan memberi nikmat yang luar biasa, lebih daripada apapun. (Brahm, 2010).

Meditasi sendiri adalah metode latihan yang dilakukan untuk melatih perhatian guna meningkatkan kesadaran sehingga dapat membawa proses mental lebih terkontrol dalam keadaan sadar. Sebagai mahasiswi, saya juga sering mengalami stress yang biasanya disebabkan karena tugas yang menumpuk dengan deadline yang berdekatan. Untuk menghadapi stress ini, saya harus menjernihkan pikiran dan menenangkan diri sehingga bisa mengerjakan tugas-tugas dengan lebih fokus dan lebih tenang. Meditasi dilakukan dengan memusatkan fokus dalam pikiran dengan duduk tenang selama beberapa waktu, sehingga kemudian pikiran-pikiran negative akan teralihkan dan memberi kedamaian dalam diri. Akhirnya, tubuh akan terhindar dari stress.

Pada aspek kesehatan biologis menurut Santoso, Bangsa dan Yudani (2013), meditasi juga berdampak pada fungsi organ tubuh yang memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Seperti tubuh yang bugar, daya tahan yang terjaga, hingga menyembuhkan berbagai penyakit. Meditasi dibuktikan mampu mengatasi banyak masalah. Latihan meditasi diyakini dapat menduplikasikan perubahan pada fisiologis. Meditasi ini berhasil digunakan di dalam perawatan dan juga dalam pencegahan tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke, penyakit jantung, kecemasan (stress), depresi, dan permusuhan. O’Hara (2006) dalam penelitiannya menemukan: kegiatan meditasi dalam  penurunan tekanan darah menunjukkan hasil signifikan dan dapat menurunkan tekanan dalam waktu yang cepat, yaitu 4-6 minggu.

Susana, Hendarsih, dan Majid (2003) pada studi lain juga berhasil menemukan temuan lain. Studi ini menggunakan teknik meditasi sebagai asuhan keperawatan dalam penurunan stress untuk kalangan usia produktif dalam rangka pencegahan adanya penyakit kardiovaskuver. Dengan diikuti 59 responden, kelompok intervansi ini melakukan kegiatan meditasi satu kali dalam satu minggu selama 4 pekan. Hasilnya, terjadi penurunan tekanan darah sistolik sebesar 4mmHg. Dengan ini, terbukti bahwa meditasi dapat mencagah penyakit kardiovaskuler (hipertensi) sebab dapat menurunkan tekanan sistolik.

Dalam perspektif islam menurut Hubbi (2019), terdapat pula meditasi yang biasa disebut meditasi sufi atau dzikir. Meditasi ini adalah sebuah serangkaian disiplin dalam pendidikan akhlak atau perilaku yang berfokus pada amal perbuatan dan ilmu yang kemudian diakhiri oleh al-maubah atau kecintaan. Hal ini nantinya akan mengantarkan seseorang kepada ma’rifatullah. Meditasi sufi atau zikir menggunakan 3 teknik, yaitu teknik konsentrasi, kontemplasi, dan teknik abrasi. Meditasi ini cenderung menggunakan objek yang berkaitan erat dengan ketuhanan dan juga ibadah seperti nama-nama tuhan, berpuasa, dll.

Meditasi tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan jasmani, tetapi juga rohani. Seseorang yang terbiasa berzikir akan merasa lebih dekat dengan Allah dan merasakan hati menjadi damai, sebagaimana yang  tertulis pada Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya,  dengan mengingat Allah, orang orang yang beriman akan memiliki hati yang tentram.  Usaha manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah cermin adanya kerinduan dalam nurani manusia kepada Tuhannya. Usaha ini bermula dari kesadaran diri sendiri bahwa yang berasalah dari tuhan akan kembali kepada-Nya.

Meditasi dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Menurut Santoso, Bangsa, dan Yudani (2013), saat meditasi diaplikasikan dengan cara yang benar, maka akan memberikan kemajuan spiritual, menghilangkan ketegangan, mengendalikan konsentrasi, dan mengontrol emosi. Kegiatan meditasi akan membuat seseorang menjadi tenang, sabar, dan damai sehingga dapat memberikan keseimbangan batin, fisik, mental, dan spiritual yang harmonis, hingga mampu menjernihkan dan mencerdaskan pikiran.

Meditasi bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa biaya. Kegiatan yang memberi banyak manfaat ini diharapkan dapat diterapkan oleh kita semua sehingga dapat membantu dalam mengurangi stress yang dihadapi. Dengan ditulisnya artikel ini, diharapkan dapat memudahkan kita dalam memahami meditasi.

Daftar Pustaka

Apsari, P. I. B. (2019). Meditation for a better life as a potentian wellness tourism in Bali. Jurnal Lingkungan & Pembangunan,  3(2), 71-83.  https://doi.org/10.22225/wicaksana.3.2.1496.71-83

Brahm, A. (2010). Superpower Mindfulness. Jakarta: Ehipassiko Foundation.

Hubbi, M. S. A. (2019). Konsep zikir menurut al-ghazali dan meditasi dalam agama Buddha. Skripsi. Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Diakses dari https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/46582

O’Hara, D. (2006). Just breathe easy: How slow breathing lowers blood pressure and relieves, anxiety and anger disorder. Diakses dari http://EzineArticles.com/?expert=David_O’Hara

Safaria, T., & Saputra, N. E. (2009). Manajemen emosi. Jakarta: Bumiaksara.

Susana, S. A., Hendarsih, S., & Majid, A. (2003). Teknik meditasi sebagai alternatif asuhan keperawatan penurun stress bagi usia produktif dalam rangka pencegahan penyakit kardiovaskuler di Poltekkes Yogyakarta (Laporan Penelitian, tidak dipublikasikan). Poltekkes Yogyakarta, Jawa Tengah.

Santoso, C. M., Bangsa, P. G., & Yudani, H. D. (2013). Perancangan panduan meditasi singkat untuk umat Buddha Theravada. Jurnal DKV Adiwarna, 1(2), 1-11. http://publication.petra.ac.id/index.php/dkv/article/view/770