BATU AMPAR – Camat Batu Ampar Suriansyah menyebut Bangunan Kantor masih belum representatif, dan banyak wilayah yang jaringan internetnya blankspot, jalan poros perlu diperbaiki, bahkan jalan di gang masih banyak yang becek dan masih banyak lagi kekurangan lainnnya di Kecamatan Batu Ampar.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada Rabu (31/1/2024) di BPU Kantor Desa Telaga.

Untuk itu, sambung ia, sesuai tugas pokok dan fungsinya pihaknya memfasilitasi hal-hal tersebut kepada Perangkat Daerah terkait untuk di akomodir dalam program dan kegiatannya.

Suriansyah mengatakan usulan prioritas pihaknya sama dengan usulan sebelumnya, seperti infrastruktur jalan poros dari Desa Himba Lestari yang berbatasan dengan Kecamatan Rantau Pulung sampai ke Desa Beno Harapan, Desa Batu Timbau dan Desa Mawai Indah.

“Ada juga jalan yang sudah jadi seperti Beno Harapan dan Mawai Indah diperbaiki, karena jalan itu akses utama yang dilintasi lima Kecamatan untuk menuju Sangatta,” harapnya.

Selain itu Suriansyah menambahkan banyak juga usulan infrastruktur lainnya, seperti pembangunan balai pertemuan. Desa Batu Timbau belum memilikinya dan itu salah satu yang di usulkan.

“Jaringan internet juga masih banyak yang blankspot, saya minta Diskominfo bantu untuk mem push para provider untuk membangun tower di tempat-tempat yang tidak ada jaringan internetnya. Desa Himba Lestari belum ada tower telekomunikasi, yang ada hanya penguat sinyal saja,” beber Suriansyah.

Disamping itu dirinya berharap Perangkat Daerah lainnya mengakomodir usulan sesuai isu dan kebutuhan, seperti pembangunan pos Damkar, apalagi di Desa Batu Timbau sudah dua kali terjadi kebakaran besar.

“Makanya kita berharap segera dibentuk pos pemadam kebakaran di Desa Batu Timbau, apalagi penduduknya cukup padat dan apabila pos ini ada bisa menjangkau Desa Telaga dan Desa Batu Timbau Ulu,” kata ia.

Sedangkan untuk hal teknis lainnya seperti pertanian dan perkebunan dirinya berharap lebih diberikan sentuhan yang lebih maksimal, apalagi Batu Ampar dikenal sebagai desa Nenas.

“Jangan hanya nenas untuk dimakan saja, bantulah masyarakat agar nenas tersebut punya produk turunan, misalkan dibuat selai atau produk lainnya.

Selain itu dulu Batu Ampar merupakan gudangnya merica, namun saat ini masyarakat sudah tidak mau berkebun merica karena harganya yang turun, sementara ditempat lain harganya masih bagus dan stabil.

“Kita minta Disperindag untuk menstabilkan harga merica, termasuk karet. Disini banyak kebun karet tapi ga diurusi masyarakat karena harganya yang rendah. Jadi kami minta untuk difasilitasi agar harga-harga tersebut naik,” pinta Suriansyah. (G-S02)

Loading