Sangatta – Upaya mempercepat transformasi digital hingga ke tingkat pemerintahan paling dekat dengan masyarakat terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Hal tersebut ditegaskan dalam penutupan Bimbingan Teknis (Bimtek) Website Kecamatan dan Desa yang digelar Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim di Hotel Royal Victoria Sangatta, Kamis (3/9/2026).
Bimtek yang berlangsung selama dua hari, 2–3 September 2026, mengusung tema “Transformasi Digital: Optimalisasi Website dan Pemanfaatan AI untuk Pelayanan Masyarakat serta Launching TERPADU DIGITAL KUTIM.”
Kegiatan tersebut secara resmi ditutup oleh Sekretaris Diskominfo Staper Kutim, Rasyid, didampingi Kepala Bidang Aplikasi Informatika, Reza Tri Akbari, S.IP. Pelatihan menghadirkan narasumber Surya Fajar Saputra, S.Kom., M.Kom. dan diikuti perwakilan aparatur dari 14 kecamatan serta 38 desa se-Kutim.
Dalam arahannya, Rasyid menyampaikan bahwa transformasi digital pemerintahan harus dibangun secara menyeluruh dan tidak berhenti pada level pemerintah kabupaten. Kecamatan dan desa, kata dia, memiliki peran penting karena menjadi ujung tombak pelayanan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Transformasi digital tidak cukup hanya dilakukan di tingkat kabupaten, tetapi harus dapat dirasakan hingga ke tingkat kecamatan dan desa,” ujar Rasyid.
Menurutnya, penguatan kapasitas aparatur dalam mengelola teknologi menjadi bagian penting untuk memastikan digitalisasi pemerintahan benar-benar memberikan manfaat. Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai pengelolaan dan optimalisasi website, tetapi juga diperkenalkan pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung pekerjaan pemerintahan.
AI diharapkan dapat dimanfaatkan secara bijak sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas aparatur, mulai dari penyusunan konten, pengolahan informasi, pengelolaan data, hingga mendukung percepatan pelayanan kepada masyarakat.
Rasyid juga meminta agar keberadaan website kecamatan dan desa tidak berhenti sebagai media publikasi kegiatan seremonial. Website harus dikembangkan menjadi kanal informasi publik yang aktif, informatif, mudah diakses, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kita ingin website berkembang menjadi kanal informasi dan pelayanan yang aktif, mudah diakses, dan relevan. Masyarakat harus dengan mudah memperoleh informasi mengenai pemerintahan, pembangunan, layanan publik, hingga potensi desa masing-masing,” katanya.
Selain optimalisasi website, peserta juga diarahkan untuk memanfaatkan dan mengintegrasikan layanan melalui platform TERPADU DIGITAL KUTIM. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pemerintahan digital yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Rasyid menegaskan, digitalisasi pemerintahan pada akhirnya bukan sekadar persoalan menghadirkan teknologi maupun memperbanyak platform digital. Ukuran keberhasilannya harus dilihat dari dampak yang dirasakan masyarakat.
“Keberhasilan transformasi digital bukan diukur dari seberapa banyak aplikasi dan website yang kita miliki, melainkan seberapa besar teknologi tersebut mampu memberikan kemudahan, kecepatan, transparansi, dan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Diskominfo Staper Kutim berharap aparatur kecamatan dan desa mampu menjadi penggerak transformasi digital di wilayah masing-masing, sehingga pemanfaatan teknologi dapat semakin memperkuat keterbukaan informasi dan kualitas pelayanan publik di Kutim. (Wr)
![]()



