
SANGATTA – Proses verifikasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kutai Timur menemukan sejumlah kondisi yang membuat data perlu ditelusuri kembali. Salah satunya anak yang tercatat dalam kategori alasan lainnya, namun ternyata masih mengikuti pendidikan di pesantren.
Kepala Bidang PAUD dan PNF Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu temuan dalam proses verifikasi yang dilakukan operator desa.
“Rata-rata yang agak banyak itu di alasan lainnya. Mereka sekolah ke pesantren dan pesantrennya tidak ada di Kutim,” jelas Heri.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dibedakan dalam pemutakhiran data. Sebab, anak yang sedang mengikuti pendidikan di pesantren tetap perlu diketahui status pendidikannya, meskipun lembaga pendidikan yang diikuti berada di luar wilayah Kutai Timur.
Selain data anak yang belajar di pesantren, proses verifikasi juga menemukan data anak yang ternyata sudah menyelesaikan pendidikan SMA hingga melanjutkan kuliah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa data ATS membutuhkan proses verifikasi secara langsung agar kondisi setiap anak dapat diketahui secara lebih jelas.
Untuk pesantren yang berada di wilayah Kutai Timur, khususnya sejumlah pesantren salafi, Heri menyebut penanganannya mulai dilakukan melalui pamong di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kualitas data ATS sekaligus memastikan anak-anak yang masih mengikuti pendidikan tidak keliru masuk dalam kategori anak tidak sekolah.
“Yang ada di Kutim itu beberapa pesantren yang salafi sudah kita layani melalui teman-teman pamong di SKB,” ujarnya. (ADV/TJ)
![]()



