
Samarinda – Batik Wakaroros menjadi salah satu identitas budaya Kutai Timur (Kutim) yang diperkenalkan ke panggung fesyen melalui keikutsertaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutim dalam Borneo International Fashion Festival (BIFF), Minggu (4/10/2026) malam.
Mengusung tema “Magicland Wakaroros Kutim”, Dekranasda Kutim menggandeng lima desainer lokal, yakni Nora Suratman, Lida Juwita, Yundra Yusinanda, Arif Leppo Ises Rahayu, dan Heni Victoria. Mereka menghadirkan sejumlah karya fesyen yang memadukan batik Wakaroros dengan kreativitas dan sentuhan desain modern.
Penampilan di panggung BIFF yang berlangsung di Odah Etam, Kantor Gubernur Kalimantan Timur, semakin menarik perhatian dengan kehadiran Masriati Mahyunadi, istri Wakil Bupati Kutim. Ia turut berjalan di atas catwalk bersama 10 peragawati dengan mengenakan busana berbahan batik Wakaroros.


Ketua Dekranasda Kutim, Hj. Siti Robiah, mengatakan partisipasi Kutim dalam BIFF tidak sekadar menampilkan busana, tetapi menjadi bagian dari strategi memperkenalkan produk kreatif daerah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
“Keikutsertaan di BIFF ini untuk memunculkan kreativitas para pelaku bisnis kita dan juga ingin mengembangkan, memunculkan bisnis kita di dunia internasional,” ujarnya.
Menurut Siti Robiah, karya para desainer Kutim memiliki peluang untuk terus dikembangkan, baik dari sisi kreativitas maupun pemasaran. Karena itu, panggung fesyen menjadi salah satu media untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Ketua Dekranasda Kutim, Hj. Siti Robiah,
Konsep “Magicland Wakaroros”, lanjutnya, dipilih untuk menggambarkan Kutim sebagai daerah yang memiliki beragam kekayaan dan potensi.
“Kita mengusung Magicland di Kutai Timur. Kutai Timur itu daerah yang ajaib, yang insyaallah semuanya ada di Kutai Timur,” katanya.
Ia menjelaskan, potensi Kutim tidak hanya bertumpu pada sektor pertambangan. Daerah tersebut juga memiliki kekayaan hutan, perkebunan, pertanian serta destinasi wisata yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif.
Potensi tersebut dinilai perlu terus diperkenalkan melalui berbagai medium, termasuk fesyen dan kerajinan daerah.
“Ini perlu diekspor dan disampaikan kepada masyarakat luas, supaya menjadi kreatif,” ungkapnya.
Keikutsertaan dalam BIFF diharapkan menjadi langkah untuk memperluas pengenalan batik Wakaroros sekaligus mendorong karya desainer dan pelaku industri kreatif Kutim menembus pasar nasional hingga internasional. (ADV/DS)
![]()



