SANGATTA – Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) telah dilakukan pembahasan mendalam. 18 poin menjadi usulan di dalamnya. Hanya saja proyeksi vital menjadi sorotan tersendiri. Salah satunya, proyeksi pendapatan dari proyek metanol dan pabrik semen.

Seperti diketahui, nilai proyeksi pendapatan dari proyek metanol masih jauh lebih rendah daripada potensi pendapatan yang seharusnya diperoleh Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dari proyek tersebut, sementara eksplorasi bahan baku methanol berpotensi menimbulkan areal galian baru yang akan berpengaruh pada Amdal.

Hal itu dibeberkan oleh Sekretaris DPRD Kutim, Ikhsan Syerpie. Sehingga, seharusnya pemerintah daerah dapat ambil bagian dengan porsi yang lebih besar dalam proyek ini. Juga nilai proyeksi pendapatan harus lebih ditingkatkan, selain dari proyek metanol tersebut.

Dijelaskan pula oleh Ketua Bapemperda DPRD Kutim Agus Riansyah, Kutim juga dapat meraup potensi pendapatan lainnya dari pabrik semen. Sehingga pada pokoknya optimisme akan kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) itu tetap ada, hanya tinggal bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya dengan baik.

“Ada beberapa poin yang paling vital, itu semua kami bahas di internal kemudian diusulkan melalui rapat dan dimasukan dalam RPJMD, termasuk metanol,” tuturnya.

Tidak hanya itu, permasalahan sampah, penyelesaian Pelabuhan Kudungga, hingga infrastruktur menjadi usulan skala prioritas. Pihaknya berupaya agar menyelaraskan program kerja pemerintah.

“Pembahasan RPJMD ini tidak bisa main-main, karena ini merupakan rencana kerja pemerintah untuk lima tahun mendatang. Beberapa memang prioritas,” ungkap dia.

Maka itu, menurutnya jika didapati pembangunan setiap tahunnya yang melenceng dari ketentuan RPJMD, maka pemerintah dianggap melanggar.

Di tempat yang sama, Wakil Bupati Kasmidi Bulang menjelaskan jika keberadaan dua perusahaan ini memang harus bermanfaat untuk masyarakat. Tidak hanya sumber daya alam saja. Melainkan mesti dapat melibatkan warga setempat dalam hal pengelolaan.

“Jika nanti sudah mulai bekerja, perusahaan harus bisa mengutamakan orang Kutim, terutama mereka yang tinggal di ring 1, 2 dan 3. Kurang lebih akan ada penerimaan 10 ribu tenaga kerja selama tiga tahun berturut-turut. Warga harus bisa menangkap peluang ini,” tutup ia. (ADV/G-S03)