SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menargetkan prevalensi stunting turun hingga 19,38 persen pada tahun 2029. Target tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS) yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim bersama OPD terkait di Ruang Rapat Bappeda, Rabu (13/4/2025).
Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mempercepat penurunan angka stunting sesuai target dalam RPJMD Kabupaten Kutai Timur Tahun 2025–2029.
Dalam dokumen tersebut, angka stunting ditargetkan turun secara bertahap dari 26,9 persen pada tahun 2024 menjadi 25,35 persen di tahun 2025 hingga mencapai 19,38 persen pada tahun 2029.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kutim, Mitha Ferdina, menyebut pemerintah daerah terus memperkuat program intervensi kesehatan dan gizi masyarakat guna mendukung pencapaian target tersebut.
“Berbagai program sudah berjalan dan akan terus diperkuat, baik melalui layanan kesehatan maupun edukasi masyarakat,” katanya.
Program yang dijalankan di antaranya pemberian makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil, imunisasi, pemeriksaan kesehatan rutin, skrining pertumbuhan anak hingga edukasi gizi di Posyandu dan Puskesmas.
Selain itu, pemerintah juga melibatkan generasi muda melalui Program Duta Remaja Aksi Bergizi yang meliputi sarapan sehat bersama, konsumsi tablet tambah darah serta pemeriksaan kesehatan berkala.
Data tahun 2025 menunjukkan Kabupaten Kutai Timur berada di posisi ketiga angka prevalensi stunting tertinggi di Kalimantan Timur dengan angka 26,9 persen.
Pemerintah daerah berharap melalui penguatan intervensi kesehatan dan kolaborasi lintas sektor, penanganan stunting di Kutai Timur dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. (WR)
![]()



