SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), melalui Dinas Koperasi dan UMKM Kutim, mengaku akan mendongkrak dan mendukung pelaku usaha lokal.

Hal itu ditegaskan oleh Kadiskop dan UMKM Kutim, Darsafani. Kata dia, pemerintah selalu berkomitmen mendukung pengusaha lokal dan umkm. Baik dari segi pelatihan produk hingga manajemen keuangan.

“Untuk UMKM lokal, pemerintah dari dulu sampai saat ini selalu memberikan peningkstan SDM dalam bentuk pelatihan setiap tahunnya, baik itu pelatihan dari mengolah produk, cara memanajemen keuangan, cara pengepakan produk hingga penasaran melalui nonton line,” ujarnya.

Termasuk usaha yang tengah digeluti salah satu Tenaga Kerja Kontrak Daerah (TK2D) Kutim Ika Meila Jayanti.

Berbekal dari resep sang mertua, perempuan berhijab itu mulai menggeluti bidang bisnis dessert di Sangatta. Banyak hal yang ia upayakan untuk meraih kesuksesan. Jatuh-bangun perjuangannya ternyata tidak mengkhianati hasil yang ia capai saat ini.

Kala orang lain dapat berselimut di tengah dinginnya malam untuk beristirahat, Mei (sapaan karibnya), lebih memilih mengadon bahan mentah menjadi kudapan lezat yang akan ia dagangkan keesokan harinya.

Perempuan kelahiran Samarinda 2 Mei 1993 itu sudah menetap sejak 2014 silam di Sangatta dan mulai menggeluti bidang ini karena keadaan ekonomi yang menghendaki. Bahkan ia sempat merasakan tidak memiliki serupiah pun untuk membelanjakan bahan makanan, itulah sebabnya ia bergegas memutar otak serta mencoba menggeluti bisnis camilan.

Bahkan saat dirinya dihantam badai krisis ekonomi dalam keluarga. Dia memang bekerja menjadi tenaga kerja kontrak daerah (TK2D) di kantor pemerintahan Kutim, hanya saja gajinya dan suami terlampau minim, paling hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tempat tinggal saja.

“Sekira 2016 itu kondisi keuangan sangat tidak memadai, sedih sekali saat mau beli susu anak tapi uang cuma tinggal Rp 100 ribu, gaji bener-bener ga seberapa waktu itu, jangankan untuk beli susu anak, mau makan aja harus dihemat banget, maka itu saya mikir harus ada usaha lain,” bebernya.

Bermodalkan uang terakhir yang dimilikinya, ia tak langsung membelikan susu sang buah hati, namun dengan tekat kuat Mei malah membeli bahan dasar dessert untuk ia jajakan di kantor suaminya. Ia sengaja menamai Lea Desert sebagai penghargaan dan motivasi untuk Lea (nama putrinya).

“Jelasnya jualan ini memang modal nekat, saya menghabiskan Rp 100 ribu yang mestinya dibelikan susu tapi saya pakai belanja bahan jualan, Alhamdulillah hasilnya dapat lebih dari modal dan lansung saya belikan susu Lea,” beber ia.

Capaian pertama ini tak membuatnya cepat puas. Ia kembali berinovasi dengan membawa dagangannya untuk dijajakan pula di kantornya. Dengan harga awal hanya Rp 3 ribu per dessert, dagangannya mulai laris. Tingkat percaya dirinya lantas meningkat, ia mencoba peruntungan dengan berjualan di ekspo HUT Kutim.

“Bahagia rasanya banyak orang yang bilang suka, saya kerja sambil jualan. Namun setahun jualan malah semakin sepi, tapi saya tidak menyerah dan mencoba hal baru terus menerus, saya coba banyak belajar online dan ikut grup penjualan biar tahu teknik yang benar, sampai akhirnya saya beranikan diri untuk jualan di ekspo,” tandasnya.

Pada ekspo 2017, jualanya belum diketahui banyak orang, alhasil, ia harus merelakan modalnya terbuang sia-sia. Sebab, tak banyak yang membeli dessert buatannya. Lagi pula, kata dia, jika harus disimpan dalam lemari pendingin pun hal yang mustahil, pasalnya, kulkas tua yang dibelinya itu tak mampu mengawetkan makanan jenis ini.

“Jualan saya tidak laku, lalu basi dan terbuang, kulkas bekas yang saya beli juga tidak bisa menyimpan makanan lebih dari dua hari, sempat putus asa modal kebuang Rp 500 ribu, buat saya itu bukan uang yang sedikit dan itu ga hanya sekali, sudah sering terbuang karena tidak laku,” jelas ia.

Namun, ia berupaya untuk membangkitkan semangatnya. Hal serupa dilakukan kembali pada ekspo 2018. Tetapi, hal yang sama pun kembali terulang. Lagi-lagi, dessert buatannya tebuang sia-sia.

“Tahun berikutnya saya kembali ikut jualan di ekspo, tetapi hal yang sama terjadi lagi, jualannya terbuang lagi. Dalam hati sempat bilang ternyata jualan dessert ga seenak yang dibayangkan, akhirnya saya mengatur strategi baru,” tukasnya.

Banyak kendala yang ia hadapi lima tahun terakhir dalam menjalankan bisnis rumahannya itu, namun bersabar dan keuletan menjadi kunci kesuksesan. Menurutnya mengorbankan banyak hal juga penting agar pengusaha dapat memaknai proses dan hasil yang memuaskan.

“Jualan ginian pasti ada saja kendalanya. Ya saya mesti pintar membagi waktu, membuat adonan pada malam, ya setelah pulang kerja, belum lagi mikirin kreatifitas postingan jualan besok dan besok lagi biar jualan tetap laku, saya juga mesti membagi waktu untuk mengurus keluarga, kalau iklas pasti hasilnya baik,” jelasnya.

Sejak 2019 dirinya sudah mengatur strategi penjualan hingga memasuki 2021, usahanya mulai berangsur membaik. Ia telah memiliki satu toko khusus sebagai outlet jualannya. Kata Mei, menggeluti satu bidang itu penting, hingga kesuksesan bisa mengantarkannya memiliki taraf kehidupan lebih baik. Kini Lea Dessert telah dikenal banyak orang dan memiliki omzet lebih banyak dibanding gajinya menjadi seorang honorer.

“Alhamdulillah, saya bersyukur sama hasil saat ini, saya fokus di satu toko. Tapi sekarang jualan saya dijual juga oleh Bella Portir di Kantor Wakil Bupati. Jadi terbantu dan dikenal banyak orang ,” pungkasnya. (G-S03)

Loading