SANGATTA – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) terus memperkuat layanan kesehatan dengan memprioritaskan pemenuhan dokter spesialis di berbagai wilayah. Upaya tersebut dilakukan melalui skema beasiswa pendidikan dokter spesialis serta program pelayanan langsung ke kecamatan-kecamatan yang masih minim tenaga ahli.

Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan bahwa pemerintah daerah saat ini aktif mendorong dokter umum yang bertugas di 21 puskesmas untuk melanjutkan pendidikan spesialis. Untuk mendukung hal tersebut, Pemkab Kutim menggandeng berbagai sumber pembiayaan, mulai dari Kementerian Kesehatan, Pemerintah Provinsi, hingga alokasi anggaran daerah.

“Kami memiliki dokter-dokter muda yang potensial di puskesmas. Mereka kami motivasi untuk melanjutkan pendidikan spesialis, dan pembiayaannya difasilitasi melalui berbagai program beasiswa. Setelah lulus, mereka diharapkan kembali mengabdi di Kutai Timur,” ujar Yuwana saat ditemui di ruang kerjanya.

Selain menyiapkan SDM jangka panjang, lanjut ia,  Dinkes Kutim juga menerapkan strategi jemput bola untuk mengisi kekosongan dokter spesialis di wilayah terpencil. Program ini melibatkan kolaborasi dengan enam organisasi profesi kesehatan, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), serta organisasi apoteker dan tenaga laboratorium.

Dalam implementasinya, tim dokter spesialis dari RSUD Kudungga dan RSUD Sangkulirang secara berkala ditugaskan ke sejumlah kecamatan, termasuk Kombeng, Muara Bengkal, dan Wahau. Penempatan dokter spesialis disesuaikan dengan kesiapan sarana dan prasarana medis di masing-masing wilayah.

“Di daerah yang sudah memiliki peralatan medis tetapi belum ada tenaga ahlinya, kami akan mendatangkan dokter spesialis sesuai kebutuhan. Contohnya di Wahau yang sudah memiliki alat pemeriksaan mata, maka dokter spesialis mata akan kami kirim dari RSUD Kudungga agar alat tersebut bisa dimanfaatkan optimal oleh masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, Yuwana menegaskan bahwa seluruh fasilitas kesehatan di Kutai Timur telah terhubung dengan sistem Rekam Medis Elektronik (RME). Menurutnya, digitalisasi layanan kesehatan ini menjadi salah satu syarat penting dalam proses akreditasi fasilitas kesehatan sekaligus mempermudah pelaporan data ke pemerintah pusat melalui platform Satu Sehat.

“Transformasi digital ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan dan integrasi data kesehatan. Dengan RME, pelaporan ke pusat menjadi lebih cepat dan akurat,” pungkasnya. (IR)

Loading