
Sangatta – Beragam produk olahan rumahan, kerajinan tangan, hingga beras hasil pertanian menjadi cerita tentang potensi masyarakat Kecamatan Kongbeng yang dibawa ke Pekan Raya Kutai Timur Expo 2026. Di tengah kemeriahan pameran, stan ini bukan sekadar ruang untuk memajang produk, melainkan juga kesempatan memperkenalkan kreativitas warga desa dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Melalui kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), Kecamatan Kongbeng menghimpun produk unggulan dari tujuh desa, yakni Makmur Jaya, Miau Baru, Marga Mulia, Sukamaju, Sri Pantun, Sidomulyo, dan Kongbeng Indah.
Berbagai produk makanan, minuman, serta kerajinan lokal menjadi bukti bahwa potensi usaha masyarakat tumbuh dari lingkungan terdekat. Bahan baku lokal dan kreativitas warga dapat menjadi modal untuk mengembangkan usaha rumah tangga, sepanjang diiringi peningkatan kualitas produk dan pemasaran yang berkelanjutan.
Camat Kongbeng, Petrus Ivung, mengatakan keikutsertaan dalam Kutim Expo 2026 menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan hasil usaha mereka kepada pengunjung yang lebih luas.
Menurutnya, pameran juga memberikan ruang bagi pelaku UP2K untuk melihat langsung respons konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Tanggapan dan masukan pengunjung dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas sekaligus menghadirkan inovasi baru.
“Melalui expo ini, kami ingin memperkenalkan produk-produk unggulan masyarakat agar semakin dikenal luas. Kami juga berharap masukan dari pengunjung dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produk,” ujar Petrus, senin (12/10/2026) malam di Alun-alun Halaman Kantor Bupati Kutim.
Di antara produk yang ditampilkan, beras hasil pertanian sawah di kawasan Abadi Jaya turut menjadi representasi potensi sektor pertanian Kongbeng.
Di balik beras yang dipamerkan, terdapat upaya petani untuk tetap menjaga produktivitas lahan meskipun menghadapi tantangan musim kemarau. Ketersediaan air yang berkurang menuntut petani menyesuaikan kegiatan tanam dengan kondisi di lapangan.
Petrus menjelaskan, pola tanam yang diterapkan memungkinkan petani melakukan penanaman hingga dua kali dalam setahun, dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan ketersediaan air.
Potensi ini memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kecamatan tidak hanya bertumpu pada perdagangan produk jadi. Sektor pertanian juga memiliki peran penting sebagai sumber penghidupan masyarakat sekaligus penyedia komoditas yang dapat diperkenalkan melalui kegiatan promosi daerah.
Cerita tentang Kongbeng tidak berhenti pada produk UMKM dan hasil pertanian. Kecamatan ini juga memiliki destinasi wisata yang berpeluang dikembangkan untuk menarik kunjungan masyarakat.
Dua di antaranya adalah Seleq Segum dan Banyu Langit. Seleq Segum dapat dijangkau sekitar 15 menit dari kampung, sementara Banyu Langit merupakan destinasi wisata buatan yang berada di kawasan permukiman Desa Sukamaju.
Bagi Petrus, potensi tersebut perlu didukung dengan pengembangan fasilitas, infrastruktur, dan promosi yang konsisten. Dengan pengelolaan yang lebih baik, destinasi wisata diharapkan dapat semakin dikenal dan membuka peluang usaha bagi masyarakat di sekitarnya.
Dukungan terhadap pengembangan potensi Kongbeng juga menjadi perhatian Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman saat meninjau stan-stan expo. Petrus menyampaikan bahwa perhatian tersebut mencakup kebutuhan infrastruktur, termasuk drainase, serta pengembangan sektor pariwisata.
Dukungan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting agar potensi lokal dapat berkembang lebih optimal. Sementara itu, promosi yang berkelanjutan diperlukan untuk memperkenalkan destinasi wisata kepada calon pengunjung dan memperluas peluang ekonomi masyarakat. (ADV/ML)
![]()



