Sangatta -Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus mendorong pelestarian adat dan budaya lokal melalui perayaan Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, mulai 9 hingga 13 Oktober 2026, ini menjadi momentum memperkuat identitas budaya sekaligus menjaga warisan leluhur Kutai.

Perayaan yang mengusung tema “Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya” tersebut resmi dibuka Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sekretariat Pemangku Adat Istiadat Kutim, Jalan Ringroad RT 066, Kecamatan Sangatta Utara, Sabtu (10/10/2026).

Pembukaan kegiatan turut dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Aji Muhammad Arifin, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta sejumlah undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Ardiansyah menegaskan bahwa Erau bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarana untuk memahami sejarah dan menghargai kekayaan budaya yang diwariskan para leluhur.

“Perayaan ini bukan sekadar pesta adat seremonial, melainkan pijakan penting dalam menghayati sejarah panjang serta warisan budaya leluhur Kutai yang bernilai tinggi,” tutur Ardiansyah.

Ia menyebutkan, kemajuan suatu daerah tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan masyarakat dalam menjaga identitas, adat istiadat, serta kebudayaan lokal juga menjadi bagian penting dalam membangun daerah yang kuat.

“Daerah yang kuat bukan hanya daerah yang maju secara ekonomi dan infrastruktur yang megah, tetapi juga daerah yang mampu menjaga identitas, adat istiadat, dan budaya yang harus kita warisi dari para pendahulu kita,” tegasnya.

Ardiansyah juga menjelaskan bahwa tema yang diangkat dalam Erau tahun ini mengandung pesan agar tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap dipahami dan dijalankan oleh generasi penerus.

“Adat lestari berarti tradisi tidak terhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus dijaga, dipahami, dan dihidupkan oleh generasi ke generasi. Tuah benua menjadi harapan akan keberkahan bagi masyarakat yang hidup di dalamnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026, Trisno, mengatakan penyelenggaraan kegiatan tersebut berangkat dari komitmen untuk menjaga kebudayaan daerah di tengah kekayaan sumber daya yang dimiliki Kutim.

Menurutnya, pelaksanaan Erau juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah daerah dalam memperkuat sektor kebudayaan dan pariwisata.

“Erau ini berlangsung selama lima hari. Kita sudah mulai kemarin, Jumat tanggal 9, yang nanti akan ditutup pada 13 Oktober 2026,” ungkap Trisno.

Ia menambahkan, daerah yang memiliki potensi besar tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga oleh komitmen masyarakat dalam menjaga dan menghormati akar budaya.

Pada kesempatan yang sama, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Aji Muhammad Arifin, menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kutim atas penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua. Ia berharap perhatian terhadap simbol dan tradisi Kesultanan terus dipertahankan sebagai bagian dari upaya melindungi warisan leluhur.

“Terima kasih setinggi-tingginya atas pelaksanaan Erau Adat Kutai Pelas Benua di Kutim hari ini, teruslah memuliakan simbol-simbol adat istiadat Kesultanan,” tuturnya.

Selain menjaga kelestarian budaya, penyelenggaraan Erau diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal tradisi daerah sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi lokal melalui kegiatan kebudayaan dan pariwisata. (ADV/IR)

Loading