G-Smart.id – SANGATTA – Rendahnya minat baca di Kutai Timur (Kutim) menjadi perhatian banyak pihak, termasuk pegiat literasi. Sejumlah nama kelompok taman baca masyarakat (TBM) di Sangatta rutin menggelar kegiatan membaca gratis di pusat keramaian. Sayangnya, upaya ini belum didukung pemerintah daerah.

Buku bacaan dan fasilitas lain masih menjadi tanggungan pelaku literasi masing-masing. Padahal diketahui, taman baca di kabupaten ini cukup banyak, hanya saja tidak ada satu pun yang terdaftar di dinas terkait.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kutim, Suriansyah mengatakan hingga saat ini tidak ada satu pun taman baca yang mendaftar.

“Mestinya ada pendataan. Kalau bisa taman baca yang ada mendaftarkan diri,” ungkapnya.

Sejauh ini, dinas tersebut hanya membina satu taman baca. Seperti dijelaskan olehnya, TBM itu didirikan oleh pihaknya beberapa tahun lalu. Hingga kini, komunikasi itu terus dilakukan.

“TBM yang kami dirikan ada satu di Kutim. Jadi kami hanya membina satu,” tuturnya.

Kemampuan anggaran menjadi salah satu pemicu dinas tersebut tidak dapat mendirikan banyak TBM di 18 kecamatan se Kutim. Mengingat, perpustakaan daerah saja tidak terakomodir dengan baik, termasuk tidak adanya pembaharuan buku sejak empat tahun lalu.

“Kami menyiapkan pojok baca sesuai kemampuan kami memberi aja,” tambah ia.

Sebagai upaya lain, ia menyebut telah bersinergi dengan instansi vertikal untuk membuka pojok baca. Terutama di kantor pelayanan yang kerap banyak kunjungan, seperti kantor kejari, kantor polisi, hingga kawasan taman Bukit Pelangi.

“Kami menjalin kerjasama dengan instansi vertikal dan menyediakan bahan bacaan di beberapa tempat,” ujarnya.

Bahkan, sinergitas juga dibangun bersama dinas lain seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim. Di mana, dinas tersebut berorientasi pada peningkatan minat baca anak-anak, khususnya di wilayah Sangatta.

“Kami akan terus membangun sinergitas, fokusnya ke minat baca. Di RPJMD juga sudah ada,” terang dia.

Kata dia, untuk meningkatkan minat baca memerlukan banyak strategi. Dinas ini, lanjutnya, telah melakukan inovasi. Seperti mengadakan perlombaan bercerita setiap Juli.

“Lomba berceritakan merupakan program rutin tiap tahun,” tegasnya.

Dia berharap, seluruh taman baca yang ada di Kutim dapat bersinergi dengan pihaknya untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Terlebih kata dia, persentase minat baca saat ini hanya mencapai 0,001 persen.

“Mudahan dengan kerjasama ke depan bisa meningkatkan minat baca masyarakat kita,” tutupnya. (ADV/G-S03)