SANGATTA – Pagi itu, halaman Kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kutai Timur mendadak berubah seperti taman bermain raksasa. Kamis (29/01/2026), ratusan anak Taman Kanak-kanak dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Sangatta Utara berlarian kecil dengan wajah ceria, sebagian menggenggam tangan guru pendamping, sebagian lain sibuk menunjuk mobil pemadam yang terparkir gagah di sisi halaman.

Bukan untuk piknik, apalagi sekadar kunjungan biasa. Hari itu, mereka datang untuk belajar satu hal penting yang sering terdengar menakutkan bagi orang dewasa yaitu  kebakaran.

Namun, di tangan para petugas Damkarmat Kutim, topik yang biasanya penuh kepanikan itu justru dikemas menjadi pengalaman menyenangkan penuh tawa, permainan, dan pelajaran keselamatan yang kelak bisa menjadi bekal seumur hidup.

Sejak kegiatan dimulai, antusiasme anak-anak tak terbendung. Mereka menyimak dengan mata berbinar saat petugas memperkenalkan diri, menjelaskan tugas pemadam kebakaran, hingga menunjukkan perlengkapan yang biasa digunakan saat bertugas.

Ada helm besar, baju tahan panas, sarung tangan tebal, hingga selang dan nozzle yang ukurannya hampir setara tinggi badan mereka. Anak-anak menatap peralatan itu seperti melihat perlengkapan pahlawan super.

Di sela-sela penjelasan, petugas beberapa kali melempar pertanyaan sederhana.

“Kalau lihat api besar, kita mendekat atau menjauh?” tanya seorang petugas.

“Menjauh!” jawab anak-anak kompak, nyaring, dan penuh semangat.

Bagi mereka, ini bukan sekadar menjawab pertanyaan. Ini latihan membangun refleks untuk tahu apa yang harus dilakukan ketika situasi genting datang tiba-tiba.

Di hadapan para murid TK, petugas Damkarmat juga mengenalkan sisi lain profesi pemadam kebakaran yang jarang diketahui anak-anak—bahkan sebagian orang dewasa.

Mereka tidak hanya memadamkan api. Damkar juga turun tangan mengevakuasi korban kecelakaan, membantu penyelamatan saat bencana, menangani hewan berbahaya, hingga melakukan edukasi pencegahan kebakaran ke masyarakat.

Kepala Damkarmat Kutim melalui Kepala Bidang Pencegahan, Wilhelmina Magdalena Kailola, menegaskan bahwa edukasi keselamatan harus dimulai sejak dini, dengan pendekatan yang sesuai dunia anak-anak.

“Bermain sambil belajar menjadi salah satu cara kami dalam memberikan edukasi kepada anak-anak. Dengan suasana yang gembira, mereka akan lebih mudah menerima pengetahuan,” ujar Wilhelmina.

Tak hanya anak-anak yang mendapat pelajaran. Di bagian lain kegiatan, para orang tua dan guru pendamping juga diajak mengikuti pembekalan singkat mengenai penanganan awal kebakaran.

Mulai dari kebakaran akibat korsleting listrik, hingga bahaya kebocoran gas dari kompor rumah tangga, semuanya dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai contoh langkah cepat yang harus dilakukan sebelum api membesar.

“Kami ingin anak-anak dan orang tua sama-sama memahami pentingnya pencegahan kebakaran agar dapat meminimalisir dampak dari musibah yang terjadi. Namun yang paling utama adalah bagaimana mereka mengetahui langkah awal penyelamatan diri serta bersikap tenang dan sigap saat menghadapi situasi darurat kebakaran,” jelas Wilhelmina.

Kegiatan ini seolah menjadi pengingat bahwa keselamatan bukan hanya urusan petugas. Ia dimulai dari rumah, dari cara kita memperhatikan kabel listrik, memeriksa selang gas, hingga melatih keluarga agar tidak panik saat keadaan darurat.

Setelah materi dan pengenalan alat, tibalah bagian yang membuat anak-anak tak henti bersorak.

Satu per satu murid TK ABA mengenakan atribut pemadam kebakaran. Baju mereka terlihat kebesaran, helmnya sedikit miring, tapi senyum mereka sempurna, senyum anak kecil yang merasa sedang menjalankan misi besar.

Dengan pendampingan petugas, anak-anak diberi kesempatan memegang selang yang tersambung ke mobil pemadam. Ketika air mulai menyembur deras, suara tawa pun pecah. Ada yang kaget lalu tertawa, ada yang berusaha menahan selang seperti petugas sungguhan, ada juga yang spontan berteriak gembira saat air mengenai temannya.

Di momen itu, kantor Damkarmat Kutim tidak lagi sekadar tempat kerja. Ia menjadi ruang belajar yang hidup untuk tempat keberanian tumbuh, tanpa paksaan, tanpa ketakutan.

Kepala TK ABA Sangatta Utara, Suwarlis, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut. Menurutnya, program edukasi kesiapsiagaan ini rutin dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran karakter dan keselamatan anak.

“Ini merupakan bagian dari program tahunan kami yang rutin dilaksanakan. Harapannya, anak-anak memiliki pemahaman sejak dini terkait bahaya kebakaran,” ujar Suwarlis.

Kegiatan pengenalan bahaya kebakaran di Damkarmat Kutim hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi pelajaran yang dibawa pulang para murid bisa melekat jauh lebih lama.

Mereka belajar bahwa api bukan untuk ditantang, tetapi diwaspadai. Mereka belajar bahwa saat bahaya datang, langkah pertama adalah menyelamatkan diri. Dan yang tak kalah penting, mereka belajar bahwa di balik seragam pemadam kebakaran, ada orang-orang yang bekerja tanpa ragu demi keselamatan orang lain.

Hari itu, anak-anak pulang dengan baju basah, pipi merah karena terlalu banyak tertawa, dan kepala penuh cerita.

Dan mungkin di antara ratusan anak itu ada satu yang kelak benar-benar menjadi pahlawan berseragam merah, seperti yang mereka coba hari ini. (IR)

Loading