
SANGATTA – Masyarakat desa di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memiliki alternatif untuk memperkenalkan dan menawarkan produk lokal melalui katalog digital yang tersedia pada website desa. Fitur ini dapat dimanfaatkan untuk menampilkan berbagai produk, mulai dari hasil pertanian hingga hasil bumi lainnya, agar lebih mudah dikenal calon pembeli.
Pemanfaatan website desa tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Kutim melalui Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) dalam memperluas penggunaan teknologi digital di tingkat desa. Website yang sebelumnya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi kini mulai diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Bidang Aplikasi Informatika (Aptika) Diskominfo Staper Kutim, Reza Tri Akbari, mengatakan masyarakat yang ingin memasarkan produknya secara daring dapat memanfaatkan fitur yang tersedia pada website desa.
“Kalau siapa yang mau jualan online, bisa dimasukkan ke itu. Cuma untuk saat ini masih yang tipe sederhana,” ujar Reza.
Ia menjelaskan, fitur tersebut saat ini bekerja seperti katalog produk. Calon pembeli dapat melihat produk dan informasi penjual yang tercantum pada website desa, kemudian menghubungi penjual untuk melakukan pemesanan.
Sebagai contoh, masyarakat yang ingin membeli produk pertanian seperti bayam dapat melihat daftar penjual yang tersedia. Setelah menentukan produk dan jumlah yang dibutuhkan, calon pembeli melanjutkan komunikasi dengan penjual melalui aplikasi WhatsApp, termasuk untuk menyampaikan alamat pengiriman.
“Terhubungnya cuma sekadar ke WA saja. Pesan ini untuk alamat jalan ini, ini, ini,” jelasnya.
Dalam pengelolaannya, data penjual dan produk pada website desa menjadi tanggung jawab operator masing-masing desa. Operator dapat memasukkan informasi sesuai potensi wilayah dan ketersediaan produk yang ditawarkan masyarakat setempat.
Dengan mekanisme tersebut, katalog digital dapat menyesuaikan jenis produk yang tersedia di setiap desa. Namun, karena belum dilengkapi sistem transaksi langsung, proses pemesanan dan komunikasi antara pembeli dengan penjual masih dilakukan melalui WhatsApp.
Reza menyebut fitur tersebut masih berpeluang dikembangkan agar dapat memberikan kemudahan yang lebih luas bagi masyarakat. Konsep pengembangan selanjutnya akan dipertimbangkan dengan melihat kebutuhan layanan dan kemungkinan penambahan fungsi.
“Untuk ke depannya mungkin bisa dikembangkan. Saya pikirkan dulu konsepnya seperti apa,” katanya.
Pemanfaatan katalog digital ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat desa untuk mengenalkan produk lokal melalui media daring. Dengan pengelolaan informasi yang aktif oleh operator desa, website diharapkan tidak hanya menjadi pusat informasi pemerintahan, tetapi juga sarana pendukung promosi potensi dan kegiatan ekonomi masyarakat. (ADV/TJ)
![]()



