SANGATTA – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong komoditas nanas dan kakao agar tidak berhenti sebagai hasil pertanian dan perkebunan. Kedua produk tersebut diarahkan untuk masuk ke tahap pengolahan dan pemasaran yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro (PUM) Dinas Koperasi dan UKM Kutim, Junianti mengatakan pengembangan komoditas unggulan harus berjalan beriringan dengan penguatan pelaku UMKM.

Menurutnya, pendampingan dilakukan mulai dari tahap produksi hingga produk siap dipasarkan kepada konsumen.

“Bidang kami adalah pemberdayaan usaha mikro, jadi keterlibatan kami dari hulu ke hilir. Ketika produk UMKM sudah dikemas dengan baik, kami yang membantu mempromosikan sekaligus mendampingi para pengusaha UMKM,” ujarnya.

Junianti menyebut, pengembangan kakao Kutim memiliki basis produksi yang tersebar di empat kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Kaubun, Karangan, Busang dan Teluk Pandan.

Sementara itu, salah satu sentra utama produksi nanas berada di Desa Himba Lestari, Kecamatan Batu Ampar. Di kawasan tersebut telah berkembang sejumlah pelaku UMKM yang mengolah komoditas nanas menjadi produk bernilai jual.

Potensi tersebut semakin terbuka setelah produk nanas dan kakao fermentasi Kutim mendapat perhatian calon investor dalam kegiatan business matching pada Expo Akasia di BSD City, Tangerang.

Junianti menilai minat pasar tersebut menjadi momentum untuk mendorong pelaku usaha lokal meningkatkan kualitas produk. Penguatan pengemasan, pemasaran dan kapasitas produksi menjadi bagian penting agar UMKM mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih luas.

“Harapannya, produk-produk unggulan ini bisa menambah nilai ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kutai Timur,” katanya.

Menurut Junianti, keberadaan sentra produksi dan UMKM pengolah menjadi modal awal dalam membangun ekosistem usaha berbasis komoditas lokal.

“Ini seperti sudah ada tanda bahwa pasar sudah menanti. Tinggal bagaimana kita sebagai pengelola mampu mengoptimalkan sumber daya alam yang subur ini menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi lintas OPD dan pendampingan UMKM, pemerintah daerah berupaya memastikan potensi nanas dan kakao tidak hanya menghasilkan produk primer, tetapi berkembang menjadi komoditas dengan rantai nilai ekonomi yang lebih panjang.Ketiga naskah ini bisa dipakai sebagai tiga angle pemberitaan terpisah: investasi, kolaborasi OPD, dan penguatan UMKM/hilirisasi. (ADV/TJ)

Loading